matrik dan aljabar linear
Matrik dan aljabar linear
Matrik
DEFINISI : Matriks
adalah susunan segiempat siku-siku dari bilangan-bilangan. Bilangan tersebut
dinamakan entri.
Jika A adalah suatu matriks, maka entri
pada baris ke-i dan kolom ke-j dapat dinyatakan sebagai aij.
Contoh :
A = ⎡a11
a12
a13 ⎤ = ⎡a ⎤
⎢a a a
⎥ ⎣ ij
⎦2´3
⎣ 21 22 23 ⎦
Selanjutnya ukuran suatu matriks dinyatakan sebagai banyaknya baris dan kolom, sebagai contoh matriks A di
atas berukuran 2 × 3.
MATRIKS
PERSEGI
Suatu matriks yang memiliki kolom dan baris yang
banyaknya sama dinamakan
matriks persegi. Contoh :
⎡1 2 3⎤
⎢ ⎥
A = ⎢4 5 6⎥
⎢⎣7 8 9⎥⎦
MATRIKS
DIAGONAL
Matriks D dikatakan matriks diagonal jika
matriks tersebut merupakan matriks persegi dengan entri-entri dij = 0 untuk setiap i
¹ j.
Contoh :
⎡1 0 0 ⎤
⎢ ⎥
D = ⎢0 5 0⎥
⎢⎣0 0 9⎥⎦
MATRIKS SATUAN /IDENTITAS
Matriks I dikatakan matriks
satuan jika matriks I merupakan matriks diagonal dengan entri-entri Iii
= 1 untuk setiap i ( entri
diagonalnya = 1).
Contoh :
⎡1 0 0 ⎤
⎢ ⎥
I = ⎢0 1 0⎥
⎢⎣0 0 1⎥⎦
OPERASI
PADA MATRIKS
1.
Penjumlahan
3 3
Dua buah matriks dapat dijumlahkan jika mempunyai ukuran
yang sama Penjumlahan dua
matriks didefinisikan sebagai berikut :
Jika
A = ⎡⎣aij ⎤⎦2´ dan
A = ⎡⎣bij ⎤⎦2´
, maka
A + B = ⎡⎣aij + bij ⎤⎦
2´3
Contoh :
A = ⎡1 2 3⎤ dan B = ⎡0 2 1⎤ ,
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
⎢4 5 6⎥ ⎢2 0 6⎥
diperoleh
A + B = ⎡1 + 0 2 + 2 3 + 1⎤ = ⎡1 4 4 ⎤
⎢4+2 ⎥ ⎢ ⎥5+0 6+6 6 5 12
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
2. Perkalian
Matriks
Untuk mendefinisikan perkalian matriks, terlebih
dahulu diberikan sebuah contoh sebagai berikut :
⎡1
2 ⎤
A = ⎡1 2 3⎤ dan
B = ⎢4 5 ⎥
⎢4 5 6⎥ ⎢ ⎥
⎣ ⎦ ⎢⎣0 1
⎥⎦
⎡1 2 3⎤ ⎡1 2⎤ ⎡1(1) + 2(4) + 3(0) 1(2)+2(5)+3(1)⎤ ⎡9 15 ⎤
AB = ⎢ ⎥ ⎢4 5 ⎥ = ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥
⎣ ⎦ ⎢ ⎥
4 5 6 ⎢ ⎥
⎣0
1⎦
⎣4(1)+5(4)+6(0) 4(2)+5(5)+6(1)⎦ ⎣24 39⎦
Berdasarkan contoh di atas,
dapat dilihat bahwa dalam menghitung perkalian dua matriks, kita mengalikan
elemen-elemen pada setiap baris dengan
elemen-elemen pada setiap kolom.
Jika
A = ⎡⎣aij ⎤⎦m´ dan
A = ⎡⎣bij ⎤⎦r´ , maka
AB = [akh ] dengan
r m m´n
aik = å air brk
r
3. Perkalian
scalar
Jika A adalah suatu matriks dan k adalah scalar, maka kA adalah
suatu matriks yang entri-entrinya merupakan hasil kali entri matriks
A dengan k.
Contoh :
k =2 dan
A = ⎡1 2 ⎤ Þ 2 A = ⎡2 4⎤ .
0 3 0 6
⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
4. Transpose
matriks
Jika A matriks berukuran m × n,
maka transpose matriks A, dinotasikan dengan At, merupakan matriks
berukuran n × m dengan baris ke-i nya merupakan kolom ke-i dari A.
Jadi
At = ⎡⎣a ji ⎤⎦ , a ji Î A .
Contoh
:
⎡1 2 4⎤
⎡1 2 ⎤
A = ⎢ ⎥ Þ At = ⎢2 0⎥
⎣2 0 1⎦
⎢ ⎥
⎢⎣4 1⎥⎦
LATIHAN
:
1. ⎡a - b b + c
⎤ = ⎡8 1⎤ , tentukan nilai a,b,
c dan d.
⎢3d + c 2a - 4d ⎥ ⎢7 6⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
2. Jika diketahui matriks-matriks sebagai
berikut :
⎡3 0⎤ ⎡4 -1 ⎤ ⎡1 4 2 ⎤
A = ⎢-1 2 ⎥ B = ⎢ ⎥ C = ⎢ ⎥
⎣1 ⎦
⎢ 1 ⎥ ⎣0 2⎦ ⎣3 1 5⎦
Hitung : AB, AC,
BC, CA.
SIFAT-SIFAT
OPERASI MATRIKS
Berikut beberapa sifat yang berlaku pada operasi matriks:
1. A+ B =
B + A ( komutatif terhadap penjumlahan)
2. A + (B +
C) = (A+B) + C (
assosiatif terhadap penjumlahan)
3. A(BC)
= (AB) C (
assosiatif terhadap perkalian)
4.
A(B+C) = AB +
AC ( distributif)
Selanjutnya akan dibuktikan untuk sifat (3) sebagai berikut
:
⎡a11
a12 ....a1r ⎤
⎡b11
b12............. b1k ⎤
⎡c11
c12...... c1n ⎤
Misal
A = ⎢ # ⎥ ; B = ⎢ # ⎥ dan C = ⎢ # ⎥ .
⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎢⎣am1
am 2 ...amr ⎥⎦
⎢⎣br1
br 2 ...brk ⎥⎦
⎢⎣ck1
ck 2 ...ckn ⎥⎦
⎡b11
b12............. b1k ⎤ ⎡c11
c12...... c1n ⎤
⎡åb1k ck1
åb1k ck 2 .......... åb1k ckn ⎤
BC = ⎢ #
⎥ ⎢ #
⎥ = ⎢ # ⎥
⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎢⎣br1
br 2 ...brk ⎥⎦ ⎢⎣ck1
ck 2
...ckn ⎥⎦
⎢åbrk ck1
åbrk ck 2 ........... åbrk ckn ⎥
⎡a11
a12...... a1r
⎤ ⎡åb1k ck1
⎣ ⎦
åb1k ck 2 ........... åb1k ckn ⎤
A(BC) = ⎢ # ⎥ ⎢ # ⎥
⎢ ⎥ ⎢ ⎥
⎢⎣am1
am2 ...amr ⎥⎦ ⎢åbrk ck1 åbrk ck 2 ............ åbrk ckn ⎥
⎣ ⎦
⎡a11 å b1k ck1 + a12 å b2 k ck1 + .... + a1r å brk
ck1 ..............
a11 å b1k ckn + a12 å b2 k ckn +...+ a1r å brk ckn ⎤
= ⎢ # ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣am1 å b1k ck1 + am 2 å b2 k ck1 + .... + amr å brk ck1 .............. am1 å b1k ckn + am 2 å b2 k ckn +...+ amr å brk ckn ⎥⎦
⎡å a11b1k ck1 + å a12 b2 k ck1 + .... + å a1r brk ck 1 ..............
å a11b1k ckn +å a12 b2 k ckn +...+ å a1r brk ckn ⎤
= ⎢ # ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣å am1b1k ck1 + å am 2 b2 k ck 1 + .... + å amr brk ck1 .............. å am1b1k ckn +å am 2 b2 k ckn +...+ å amr brk ckn ⎥⎦
⎡å a1r å brk ck1
å a1r å brk ck 2
.....
å a1r å brk ckn ⎤
⎢ r k r k r k ⎥
= ⎢ # ⎥
⎢ ⎥
⎢å amr å brk ck1
å amr å brk ck 2
.....
å amr å brk ckn ⎥
⎢⎣ r k r k r k ⎥⎦
⎡åå a1rbrk ck1
åå a1rbrk ck 2
.....
åå a1rbrk ckn ⎤
⎢ r k r k r k ⎥
= ⎢ # ⎥
⎢ ⎥
⎢åå amr brk ck1
åå amrbrk ck 2
.....
åå amr brk ckn ⎥
⎢⎣ r k r k r k ⎥⎦
Selanjutnya akan dicari bentuk dari (AB)
C sebagai berikut :
⎡a a
....a
⎤ ⎡b b
....b ⎤
⎡å a1rbr1
å a1rbr 2
....
å a1rbrk ⎤
⎥ ⎢ ⎥ ⎢
11 12 1r
11 12 1k
⎢ r r r ⎥
AB = ⎢ #
⎥ ⎢ #
⎥ = ⎢ # ⎥
⎢a a
...a
⎥ ⎢b b
⎢
...b ⎥
a b a
b
⎥
.... a b
⎣ m1 m2
mr ⎦ ⎣ r1 r 2
rk ⎦
⎢å mr r1
å mr r 2
å mr rk ⎥
⎢⎣ r r r ⎥⎦
⎡å a1rbr1
å a1rbr 2
....
å a1rbrk
⎤
⎡c c
....c ⎤
⎢ r r r
⎥ ⎢ 11 12 1n ⎥
( AB)C = ⎢
# ⎥ ⎢ # ⎥
⎢
a b a
b
⎥ ⎢ ⎥
.... a b c c ...c
⎢å mr r1 å mr r 2
å mr rk ⎥ ⎣ k1 k 2 kn ⎦
⎢⎣ r r r
⎡å a1rbr1c11 +å a1rbr 2c21 + +å a1rbrk ck1
⎥⎦
.......
å a1rbr1c1n +å a1rbr 2c2n + ... +å a1rbrk ckn ⎤
⎢ r r r r r r ⎥
= ⎢ # ⎥
⎢ ⎥
⎢å amrbr1c11 +å amrbr 2c21 +
.... +å amrbrk ck1
.....
å amrbr1c1n +å amrbr 2c2n + ... + å amrbrk c2k ⎥
⎢⎣ r r r r r r ⎥⎦
⎡åå a1rbrk ck1
åå a1rbrk ck 2
....
åå a1rbrk ckn ⎤
⎢ r k r k r k ⎥
= ⎢
⎢
⎢åå amrbrk ck1
åå amrbrk ck 2
#
....
⎥
⎥
åå amrbrk ckn ⎥
⎢⎣ r k r k r k ⎦⎥
Jadi terbukti
bahwa (AB)C = A(BC).
Selanjutnya dengan menerapkan
sifat-sifat pada operasi pada matriks, maka diperoleh suatu ketentuan yang
ditulis dalam teorema berikut :
Teorema 2.1: Setiap sistem
persamaan linear pasti
memenuhi salah satu kondisi
berikut:
tidak memiliki solusi, memiliki solusi tunggal,
atau memiliki banyak solusi.
Bukti :
Misal sistem
persamaan linear AX=B memiliki solusi dan solusi tersebut
adalah X1
dan X2. Diperoleh AX1 = B dan AX2 = B, sehingga AX1 = AX2.
Akibatnya A(X1-X2)
= 0.
Jika X0 = X1 –X2
, maka
A(X1 + kX0) = AX1 + A(kX0)
=
AX1 + k A(X0)
= B + 0
= B
Berdasarkan hasil di atas,
terlihat bahwa X1 + kX0 juga merupakan solusi.
Karena terdapat tak hingga banyak untuk
scalar k, maka sistem
persamaan linear tersebut memiliki takhingga banyak solusi.
MATRIKS
YANG MEMILIKI INVERS ( INVERTIBEL )
Suatu matriks persegi dikatakan memiliki invers (
dapat dibalik / invertible ) jika terdapat matriks B sehingga AB = BA = I,
dengan I matriks satuan.
Contoh
:
Matriks B = ⎡3
5⎤ merupakan
invers dari matriks A = ⎡2 -5⎤ sebab
1 2 ⎣ ⎦
⎢ ⎥
⎣ ⎦
⎢1 2 ⎥ ⎢-1 3⎥ ⎢ ⎥0 1
AB = ⎡3 5⎤ ⎡2 -5⎤ = ⎡1 0⎤
⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦
⎢-1 3⎥
MATRIKS
ELEMENTER
Suatu
matriks persegi berukuran n × n dinamakan matriks elementer jika matriks tersebut dapat diperoleh dari suatu matriks
identitas berukuran n × n ( In ) dengan
melakukan satu kali OBE.
Contoh :
⎡1 0 ⎤
a.
0 2
⎢ ⎥
⎣ ⎦
(mengalikan baris
kedua dari I2
dengan 2 )
⎡0 1⎤
b.
1 0
⎢ ⎥
⎣ ⎦
(menukar baris
kedua dari I2
dengan baris pertama )
⎢0 ⎥2
c. ⎡1 2 ⎤
⎣ ⎦
(menambahkan dua
kali baris kedua dari I2
dengan baris pertama )
Misal kita memiliki matriks A =
⎡2 -5⎤ .
Selanjutnya kita kalikan matriks
⎢-1 3⎥
⎣ ⎦
elementer E =
⎢-2 6⎥
⎡2 -5⎤ .
⎣ ⎦
⎡1 0 ⎤ dengan
matriks A, diperoleh EA =
⎢0 ⎥2
⎣ ⎦
⎡1 0 ⎤ ⎡2 -5⎤ =
⎢0 2⎥ ⎢-1 3⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
Terlihat
bahwa matriks yang baru dapat diperoleh dari matriks A dengan melakukan OBE yang sama untuk memperoleh matriks E. Hal ini dinyatakan dalam terome di
bawah ini.
Teorema 2.2: Jika
suatu matriks elementer E diperoleh
dengan melakukan suatu OBE pada Im
dan A adalah matriks berukuran m × n
, maka hasil kali EA merupakan
suatu matriks yang diperoleh dari A dengan
melakukan OBE yang sama pada Im
untuk memperoleh E.
Penting :
Jika suatu OBE dikenakan pada
suatu matriks identitas I sehingga menghasilkan matriks E,
maka pasti terdapat suatu OBE yang apabila dikenakan pada E akan menghasilkan I.
Contoh :
⎢0 1⎥
a).
⎡1
0⎤ 2R1 ® R1
⎣ ⎦
b). ⎡1 0⎤ R2 ® R1
Þ ⎡2 0⎤ 1 R1 ® R1
⎢0 ⎥1 2
⎣ ⎦
Þ ⎡0 1⎤ R2 ® R1
Þ ⎡1 0⎤
⎢0 ⎥1
⎣ ⎦
Þ ⎡1 0⎤
⎢0 1⎥ R
® R
⎢1 0⎥ R
® R
⎢0 1⎥
⎣ ⎦ 1 2 ⎣ ⎦ 1 2 ⎣ ⎦
⎢ ⎥
c). ⎡1 0⎤
0 1 7R + R ® R
⎡1 0⎤
Þ
⎢7 1⎥ -7R +
R ® R
⎡1 0⎤
Þ
⎢0 1⎥
⎣ ⎦ 1 2 2 ⎣ ⎦ 1 2 2 ⎣ ⎦
operasi –operasi di atas dapat dituliskan dalam tabel sebagai berikut :
|
OBE pada I untuk
memperoleh E |
OBE pada E untuk
memperoleh I |
|
Mengalikan baris ke-i
dengan k |
Mengalikan baris ke-i
dengan 1/k |
|
Menukar baris ke-i dengan
baris ke-j |
Menukar baris ke-i dengan
baris ke-j |
|
Menambahkan k kali
baris ke-i pada baris ke-j |
Menambahkan -k kali baris ke-i pada baris ke-j |
Teorema berikut menunjukkan sifat penting dari matriks elementer.
Teorema
2.3: Setiap matriks elementer mempunyai invers dan inversnya juga merupakan
matriks elementer.
Bukti : Karena setiap matriks
elementer E diperoleh dengan melakukan sebuah OBE pada I dan
karena dapat ditentukan suatu OBE lagi pada E sehingga diperoleh I,
maka menurut teorema 2.2 terdapat matriks elementer E0 sehingga :
E0 E = I dan E E0
= I
Hal ini menunjukkan bahwa E mempunyai invers suatu matriks
elementer E0.
Selanjutnya sifat sifat matriks
elementer di atas akan digunakan untuk menentukan invers dari suatu matriks.
Misal akan dicari inverse dari matriks A =
⎢3 2⎥
⎡2 1⎤ . Langkah yang ingin
dilakukan adalah mengalikan matriks A dengan
⎣ ⎦
matriks elementer-matriks
elementer sehingga diperoleh suatu matriks identitas sebagai berikut :
1.)
⎡2 1⎤
⎢3 2⎥ R
-
R ® R
Þ E1
⎡1 0 ⎤
=
⎢-1 1⎥
2.)
⎣ ⎦ 2 1 2
⎡2 1⎤
⎣ ⎦
Þ E = ⎡1 0 ⎤
⎢1 1⎥ R
- 1 R ® R
2 ⎢- 1 1⎥
⎣ ⎦ 2
2
1 2
⎣ 2 ⎦
3.)
⎡2 1 ⎤ 1 R1 ® R1
2 0
⎢ 1 ⎥
⎣ 2 ⎦
⎡1 1 ⎤ R - R ® R
1 0⎤
⎡ 0 1 3 ⎢ ⎥
Þ E = 2
⎣ ⎦
⎡1 -1⎤
⎥
4.) ⎢
⎣
2 1 2 1
0 ⎦
1 2
Þ E4
= ⎢ ⎥
0 1
⎣ ⎦
5.)
⎡1 0⎤
Þ E = ⎡1 0 ⎤
⎢0 1 ⎥ 2R ® R
5 ⎢0 2⎥
⎣ 2 ⎦ 2 2 ⎣ ⎦
6.)
⎡1 0⎤ .
⎢0 1⎥
⎣ ⎦
![]()
Diperoleh :E5E4E3E2E1 A =
⎡2 1⎤
3 2
⎢ ⎥
⎣ ⎦
(Kalikan sesuai kesamaan warna)
⎡2 1⎤
=
=
⎡2 -1⎤ ⎡2 1⎤
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
= ⎢-3 2⎥ ⎢3 2⎥
⎡1 0⎤
0 1
= ⎢ ⎥
⎣ ⎦
⎢ ⎥
3 2
⎣ ⎦
⎡2 1⎤
3 2
⎢ ⎥
⎣ ⎦
Jadi invers dari A = ⎡2 1⎤ adalah E E E E E
= ⎡2 -1⎤ .
3 2 ⎣ ⎦
⎢ ⎥ 5 4 3 2 1
⎣ ⎦
⎢-3 2⎥
Langkah –langkah seperti
di atas dapat digunakan untuk mencari invers
dari suatu matriks secara
simultan sebagai berikut :
⎢2 1⎥
Misal akan dicari invers dari matriks B =
⎡6 2⎤ .
⎣ ⎦
Terapkan OBE pada B disisi
sebelah kiri dan secara bersamaan disebelah kanan OBE yang sama pada I,
yaitu :
⎡6 2 1 0⎤
Þ ⎡6 2 1 0⎤ Þ
⎢2 1 0 1⎥ R
- 1 R ® R
⎢0 1 - 1
1⎥ 3R
® R
⎣ ⎦ 2
3
1 2
⎣ 3 3
⎦ 2 2
![]()
⎡6 2 1 0⎤ R1 - 2R2 ® R1
⎢0 1 -1 3⎥
⎣ ⎦
⎡6 0 3
⎢
-6⎤ 1 R1 ® R1
⎥ 6
⎡1 0
1
Þ
⎢ 2
-1⎤
⎥
Þ A-1
⎡ 1
= ⎢ 2
-1⎤
.
⎥
⎣0 1 -1 3 ⎦
⎣0 1 -1 3 ⎦
⎣-1 3 ⎦
LATIHAN:
Cari invers dari matriks –matriks berikut :
⎡5 10⎤
2 3
1. ⎢ ⎥
⎣ ⎦
⎡2 6 6 ⎤
⎢ ⎥
2. ⎢2 7 6 ⎥
⎢⎣2 7 7⎥⎦
⎢2 ⎢⎣-4 4 2 1 ⎥ -9⎥⎦ ⎡1 0 0 0⎤ ⎢1 2 0 0⎥ ⎥ ⎢1 2 4 0⎥ ⎢ ⎣1 2 4 8⎥ ⎦
⎡3 1 5 ⎤
3. ⎢ ⎥
4. ⎢
HUBUNGAN INVERS DAN SOLUSI SISTEM
PERSAMAAN LINEAR
Jika An × n merupakan
matriks yang mempunyai invers dan B matriks
berukuran n
× 1, maka solusi dari sistem persamaan linear AX = B
adalah X = A-1 B . Hal
ini dituangkan dalam teorema sebagai berikut :
Teorema : Jika A
matriks berukuran n × n, maka pernyataan berikut ekuivalen :
1. A mempunyai
invers
2. AX
= 0 hanya mempunyai solusi trivial
3. A ekuivalen
baris dengan In.
Latihan :
⎡2 2 3 ⎤
1. Jika A = ⎢1 2 1⎥
dan X =
⎡ x1 ⎤
⎢ x ⎥
tentukan solusi dari AX = X
dan AX =
⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎥
4X.
⎢⎣2 -2 1⎥⎦
⎢⎣ x3 ⎥⎦
2.
Tentukan
nilai a dan b sehingga kedua matriks A dan B berikut tidak memiliki invers.
A = ⎡a + b - 1 0 ⎤ ; B = ⎡5 0 ⎤
⎣ ⎦ ⎣ ⎦
⎢0 3⎥ ⎢0 2a - 3b -
7⎥
3. Diketahui matriks augmentasi dari suatu
sistem persamaan linear sbb :
⎡a 0 b 2⎤
⎢ ⎥
⎢a a 4 4 ⎥ . Tentukan
nilai a dan b sehingga
sistem persamaan linear
⎢⎣0 a
2 b⎥⎦
tsb hanya memiliki satu solusi dan tidak punya solusi.
4. Tentukan matriks K sehingga AKB = C
⎡1
4 ⎤
⎡2 0 0⎤
⎡8 6 -6 ⎤
Dengan
A= ⎢-2 3 ⎥ ; B = ⎢ ⎥ ; C = ⎢6 -1 1⎥ .
⎢ ⎥
⎢⎣1 -2⎥⎦
MENGHITUNG
DETERMINAN DENGAN EKSPANSI KOFAKTOR
MINOR
Jika A adalah matriks persegi, maka minor entri aij
dinyatakan sebagai Mij dan didefinisikan menjadi determinan
submatriks setelah menghapus baris ke-i dan kolom ke-j dari matriks A.
Contoh :
⎡1 2 3 ⎤
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
1 2 2
2 1
3
⎢ ⎥
A = ⎢2 1 2⎥
⎢⎣0 2 1⎥⎦
KOFAKTOR
Þ M11 =
2 1 ; M12 =
0 1 ; M 22 = 0 1 .
Jika
Mij merupakan minor dari A, maka Cij = (-1)i
+ j dinamakan
kofaktor entri aij. Contoh
:
⎡1 2 3 ⎤
⎢ ⎥
A = ⎢2 1 2⎥
⎢⎣0 2 1⎥⎦
Þ C = (-1)2 1 2
11![]()
2 1
= -3 ; C = (-1)3 2 2
12
0 1
= -2 .
DETERMINAN
Jika A merupakan matriks berukuran n × n, maka determinan dari matriks A dapat
dihitung dengan cara :
1. Det(A) = a1j C1j + a2j C2j
+ … + anj Cnj.
2.
Det (A) = ai1 Ci1 + ai2
Ci2 + … + ain Cin
Contoh :
⎡1 2 3 ⎤
⎢ ⎥
A = ⎢2 1 2⎥ Þ det(A) = a11 C11 + a12 C12
+ a13 C13.
⎢⎣0 2 1⎥⎦
Dengan perhitungan diperoleh :
Det (A) = 1 ( -3) + 2 ( -2) + 3 (4) = 5
Latihan
:
Dengan ekspansi kofaktor, tentukan determinan dari matriks berikut :
⎡4 0 4 4 ⎤
⎢-1 0 1 1 ⎥
1. A = ⎢ ⎥
⎢1 -3 0 3 ⎥
⎣ ⎦
⎢6 3 14 2⎥
2. B =
⎡4 3 1 9 2 ⎤
⎢ ⎥ ⎢0 3 4 6 4⎥ ⎢ ⎢1 -1 2 2 2⎥ ⎥ ⎢⎣0 0 3 3 3⎥⎦
⎢0 3 2 4 2⎥
⎡1 1 1 ⎤
3. C = ⎢k k k ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣k2 k2 k2 ⎥⎦
⎡k-1 2 3 ⎤
4. D = ⎢2 k-3 4 ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣3 4 k-4⎥⎦ .
MENENTUKAN
INVERS DENGAN KOFAKTOR
⎡1 2 3 ⎤
⎢ ⎥
Misal A = ⎢2 1 2⎥ Melalui perhitungan
diperoleh :
⎢⎣0 2 1⎥⎦ .
C11 =
-3, C12 = -2, C13 = 4
C21 =
4, C22 = 1, C23 = -2
C31 =
1, C32 = 4, C33 = -3.
Jika suatu baris
kita kalikan dengan
kofaktor pada baris yang berbeda,
maka diperoleh hasil sebagai berikut
:
·
a11 C21 + a12
C22 + a13 C23 = 1(4) + 2(1) + 3(-2) = 0
·
a11 C31 + a12
C32 + a13 C33 = 1(1) + 2(4) + 3(-3) = 0
·
a21 C11 + a22
C12 + a23 C13 = 2(-3) + 1(-2) + 2(4) = 0
·
a21 C31 + a22
C32 + a23 C33 = 2(1) + 1(4) + 2(-3) = 0
·
a31 C11 + a32
C12 + a33 C13 = 0(-3) + 2(-2) + 1(4) = 0
·
a31 C21 + a32
C22 + a33 C23 = 0(4) + 2(1) + 1(-2) = 0

MENENTUKAN
INVERS
Sebelum membahas invers,
didefinisikan adjoin dari suatu matriks
sebagai berikut :
Jika A sebarang matriks berukuran n × n
dan Cij adalah
kofaktor dari A, maka
⎡C11
C12 ... C1n ⎤
⎢C C ...
C ⎥
matriks ⎢ 21 22 2n ⎥ dinamakan matriks kofaktor dan transposenya,
yaitu
⎢# # # ⎥
⎢C C ... C ⎥
⎣⎢ n1 n2 nn ⎥⎦
⎡C11
C21 ... Cn1 ⎤
⎢C C ...
C ⎥
⎢ 12 22
n2 ⎥ dinamakan
adjoin A.
⎢# # # ⎥
⎢C C ...
C ⎥
⎣⎢ 1n 2n nn ⎥⎦
Jika kita kalikan matriks A dengan adjoin A, diperoleh :
⎡a11
a12
...
a1n ⎤ ⎡C11
C21 ... Cn1 ⎤
⎢a a
... a
⎥ ⎢C C
... C ⎥
A × adjoin A = ⎢
21 22 2n ⎥ ⎢
12 22
n2 ⎥ = B
⎢ # # #
⎥ ⎢# # # ⎥
⎢a a
... a
⎥ ⎢C C
... C ⎥
⎣⎢ n1 n2
nn ⎥⎦ ⎢⎣ 1n
2n nn ⎥⎦
Entri pada baris ke-i kolom ke-j dari matriks B adalah :
bij = ai1Cj1 + ai2 Cj2 + … + ain Cjn , sehingga bij = 0 untuk setiap i ¹
j dan bii = det A.
⎡det A 0 ... 0 ⎤
⎢0 det A ... 0 ⎥
Diperoleh, A ×
adjoin A = ⎢ ⎥ = det A × I.
⎢# # # ⎥
⎣ ⎦
⎢0 0 ... det A⎥
Jadi, A × adjoin A = det A × I Û
A ⎛ adjoin A ⎞
= I .
![]()
⎜ det A ⎟
⎝ ⎠
Akibatnya jika
A mempunyai invers,
maka Contoh :
A-1 = adjoin A .
det A
⎡1 2 3 ⎤ ⎡-3 4 1 ⎤
A = ⎢2 1 2⎥ Þ adjoin A
= ⎢-2 1 4 ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣0 2
1⎥⎦
⎢ ⎥
⎢⎣4 -2 -3⎥⎦
⎡-3 4 1 ⎤
1 1
![]()
⎡ -3 4 1 ⎤
5 5 5
⎢ ⎥
A-1 =
´
adjoin A =
´ ⎢-2 1 4 ⎥ = ⎢ -2 1 4 ⎥
det A
5 ⎢ ⎥ 5 5 5
⎢⎣4 -2 -3⎥⎦
⎢ 4 -2 -3 ⎥
Latihan :
⎣ 5 5 5 ⎦ .
Tentukan invers dari matriks berikut dengan mencari adjoin :
⎡0 1 2⎤
⎢ ⎥
1. ⎢2 4 3⎥
⎢⎣3 7 6⎥⎦
⎡1 0 1 ⎤
⎢ ⎥
2. ⎢-1 3 0⎥
⎢⎣1 0
2 ⎥⎦
⎡2 -4 6⎤
⎢ ⎥
3. ⎢0 1 -1⎥
⎢⎣0 0 2 ⎥⎦
⎡3 0 0 ⎤
⎢ ⎥
4. ⎢9 1 0 ⎥
⎢⎣-4 2
4⎥⎦
ATURAN CRAMER
Sistem persamaan linear
AX = B dengan det A ¹ 0 mempunyai solusi
tunggal, yaitu :
![]()
x = det( Aj ) dengan A adalah
matriks yang diperoleh dari matriks A dengan
i det( A) j
mengganti kolom ke-j dengan
matriks B.
Bukti :
⎡C11 C21
... Cn1 ⎤ ⎡b1 ⎤
1 ⎢C C
... C
⎥ ⎢b ⎥
AX = B
Þ X = A-1 B =
(adjoin A) B
= ⎢
![]()
12 22
n2 ⎥ ⎢ 2 ⎥
det A
⎢ # # #
⎥ ⎢# ⎥
⎢C C ...
C
⎥ ⎢b ⎥
⎡b1C11 + b2C21 + ... + bnCn1 ⎤
⎣⎢ 1n
2n nn ⎥⎦⎢⎣
n ⎥⎦
1 ⎢bC + b C +
... + b C ⎥
Û X =
⎢ 1 12 2
22
![]()
n n2
⎥
det( A) ⎢ # # # ⎥
⎢bC + b C + ... +
b C ⎥
⎢⎣ 1 1n 2 2n n nn ⎥⎦
Û xj =
b1C1 j + b2C2 j
+ ... + bnCnj
![]()
det(
A)
⎡a11 a12
...
a1 j-1 b1 a1 j+1
... a1n ⎤
⎢a a ... a b a ...
a
⎥
Selanjutnya dibentuk Aj = ⎢ 21 22 2 j-1 2 2 j+1 2n ⎥ , yaitu matriks yang
⎢ # # # # # # ⎥
⎢ ⎥
⎢⎣an1
an 2
...
anj -1 bn
anj+1
...
ann ⎥⎦
diperoleh dari matriks A dengan
mengganti kolom ke-j dengan B.
Jadi peroleh x =
b1C1 j + b2C2 j + ... + bnCnj = det( Aj ) .
![]()
j
Contoh :
det( A) det( A)
Tentukan solusi sistem persamaan linear :
x + 2 y + 3z = 8 2x + y +
2z = 6
2 y + z = 5
Penyelesaian :
⎡1
2 3 ⎤
⎢ ⎥
A = ⎢2 1
2⎥ Þ det (A)
= 5
⎢⎣0 2
1⎥⎦
⎡8 2 3⎤
⎢ ⎥
A1 = ⎢6
1 2⎥ Þ
det (A1) = 8(-3) -2(-4) + 3 (7 ) = 5
⎢⎣5 2
1⎥⎦
⎡1
8 3 ⎤
⎢ ⎥ 2
A = ⎢2 6 2⎥ Þ
det(A2) = 1(-4) -8(2)
+3(10) = 10
⎢⎣0 5
1⎥⎦
⎡1
2 8 ⎤
⎢ ⎥ 3
A = ⎢2 1
6⎥ Þ
det(A3) = 1(-7) -2(10)
+8(4) = 5
⎢⎣0 2
5⎥⎦
Jadi sistem persamaan
linear tersebut mempunyai solusi :
![]()
![]()
x = 5 =
1 ; y = 10 =
2 ; z = 5 =
1 .
5 5 5
Latihan :
Tentukan penyelesaian dari
sistem persamaan linear berikut :
x + 2 y - 2z = 1
1. 2x - y + z = 2
x - 2 y - 4z = -4
4x + 5 y = 2
2. 11x + y + 2z = 3
x + 5 y + 2z = 1
4x + y + z + w = 6 3x + 7 y - z + w = 1
3. 7x + 3y - 5z + 8w = -3
x + y + z + 2w = 3
⎣0 1 -1⎦
⎢ ⎥
⎢⎣-4 0 0⎥⎦
Comments
Post a Comment